Ingin Berpaling

•Januari 19, 2011 • Tinggalkan sebuah Komentar

Hari ini saya buat satu blog lagi di blogger dengan alamat http://www.bungarumputdipadangilalang.blogspot.com. dan sudah mencoba untuk mengekspor isi blog WP ini kesana. Tapi masih berat untuk meninggalkan..

hufff,,, pindah ga ya???

One Cup of Cappucino

•Januari 18, 2011 • Tinggalkan sebuah Komentar

Kusiapkan satu cangkir cappucino untukmu malam ini,,
Untuk pengusir kantuk yang menyerang,
Untuk penghilang penat yang menggelayuti,
Untuk pengusir jemu yang membuncah,,
Karena ku tak bisa ada di sana,
Menemanimu menghabiskan malam,
Bercerita tentang bulan dan tarian bidadarinya

Fragile-ku Bercerita

•Januari 15, 2011 • Tinggalkan sebuah Komentar

 

Apa yang kau lakukan jika hatimu lagi gundah? Bersedih, meratap, uring-uringan??? yah,,tiap orang punya cara yang berbeda untuk mengungkapkan rasa hatinya. Saya pun punya cara sendiri untuk mengisi kegundahan hati.

Dengan menyendiri sepi, tiba-tiba rentetetan kata-kata mengalir begitu saja. Jika hati sedang bergemuruh saya menjadi bisa berkata-kata. Itu adalah saat antara hati dan pikiran sedang berjalan sinkron. Jadi tidak benar itu orang-orang berkata, disaat hati lagi terpuruk dengan sedih yang teramat sangat, pikiran tidak bisa berjalan. Buktinya saya bisa,,,hehehe,,,tentu saja pikiran saya menyesuaikan dengan perasaan hati yang sedang bergejolak saat itu.

Ayuk baca tulisan saya di www.ceritasha.blogspot.com. Disinilah tempat saya mensinkronkan rasa hati dan pikiran. Dan berkaitan dengan judul dan tema saya nulis sekarang ini, nih saya berikan linknya,,,ayukk,,dibaca,,,

Fragile (1), dapat dibaca disini

Fragile (2), dapat dibaca disini

Fragile (3) dapat dibaca disini

 

Ketika membaca tulisan-tulisan tersebut, ada teman saya yang berkomentar di Facebook dan mencemaskan kondisi saya saat ini. Saya senang dikhawatirkan seperti itu,,,😀 Tapi, semua itu tidak seperti yang dia bayangkan. Ini hanyalah permainan kata-kata saja, kalaupun terkesan sangat berlebihan emang begitulah sebuah tulisan tercipta menurut saya. Dan dia begitu memahami dan mendalami tulisan saya sehingga terikut arus dengan kata-kata yang tertulis disana.  Bukan bermaksud untuk merutuk hidup atau mendahului kehendak Rabb, tapi sebuah pikiran dan imaginasi bisa saja tercipta menjadi liar bagi sebuah tulisan.

Memang sesuatu itu harus diambil hikmah dan nilai positifnya. Bukan berarti dengan bersedih, dunia terasa runtuh dan tenggelam dalam reruntuhannya. Tulisan adalah imaginasi liar saya mengungkapkan rasa hati. Orang lain bisa setuju dengan apa yang saya tulis bisa tidak. Saya tidak sedih tulisan saya dikatakan sampah atau sejenisnya, malah saya senang ketika tulisan saya tercipta dan orang berbicara setelah itu. Dan saya tidak memaksa mereka untuk menyetujui apa yang saya tulis. Harapan saya hanyalah mereka menikmati alunan kata-kata saya layaknya mendengarkan lantunan suara-suara indah yang menyejukkan hati.🙂

 

 

Gambar nyaplok dari: http://www.koran.republika.co.id

 

Baru Kan Kujelang, 2011

•Januari 1, 2011 • Tinggalkan sebuah Komentar

Dentuman itu mengagetkanku. Bunyi terompet bersahut-sahutan. Ribut sekali di luar sana. Sembari terus menulis, aku tersenyum tipis  melirik jam di sudut kanan bawah laptop. Sudah pukul 00.01. Pantas saja begitu ribut di luar sana.

Tak ada yang berbeda dengan tahun-tahun baru sebelumnya. Tak ada perayaan spesial yang aku lakukan untuk menyambut kedatangannya. Seperti biasa, aku biarkannya berlalu begitu saja. Tapi kehebohan di luar sana juga mengusikku untuk sekedar mengetahui kegembiraan mereka.

Memandang langit cerah malam ini, semakin indah dengan hiasan kembang api yang dilepas ke angkasa. Malam yang di detik-detik pergantiannya dinanti-nanti banyak orang. Aku sendiri tidak tahu, apakah aku juga menantikan pergantian tahun ini atau tidak. Bagiku, PR yang harus aku selesaikan masih banyak. 2010 menyisakan banyak hal yang masih harus aku lengkapi di tahun ini. Aku tak memikirkan target yang harus aku capai, karena tak mau terbeban dengan segala ruwet permasalahannya. Bukannya tak mau mewarnai hidup dengan bergiat menggapai target, tapi hidup adalah untuk dinikmati, karena ia hanya sementara. Dan aku tidak mau membebani pikiranku dengan pencapaian itu. Bagiku, segala apa yang ada dihadapanku, baik segala kemudahan dan kesukarannya harus dihadapi. Bertarung untuk mendapatkan apa yang aku harapkan.

Yah, harapan,,

Tentu saja aku punya harapan dan keinginan. Tapi cukuplah hanya Rabb mendengarkan apa pintaku. Aku hanya berusaha untuk menggapainya. Entah kapan bisa terwujud. Aku percaya bahwa semua itu ada waktunya, tak perlu di targetkan. Karena aku sudah merasakan bahwa sesuatu itu indah pada waktunya. Tak perlu dipaksakan. Asal ikhlas menjalani dan tetap berjuang untuk meraihnya.

Selamat tinggal 2010,,

Terima kasih sudah mewujudkan kegagalan dan mengobati kekecewaanku di tahun sebelumnya,,

Dan terima kasih sudah mengiringi langkahku menjalani hari di sepanjang waktumu,,

Welcome 2011,,

Harapanku besar terhadapmu,,

Karena banyak PR kehidupan yang harus aku angsur di hari-harimu,,

Mudah-mudahan baru yang kujelang akan selalu indah bersamamu,,

Semoga!!

 

 

 

Aku Juga Bahagia Karenamu

•Desember 31, 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

Pagi ini saya mendapat sms dari seseorang yang nomornya tidak saya kenal. Isinya seperti ini:

Aku mengenalmu tanpa sengaja,

Mencoba akrab denganmu,

Menjalani persahabatan yang indah,

Saling melengkapi satu sama lain,

Bersatu dalam ikatan persaudaraan,

‘kelak’,,,,

Suatu saat jika kita sudah punya kehidupan masing-masing

Aku akan ceritakan pada dunia bahwa,,

Aku bahagia punya sahabat sepertimu…

Teman, siapapun dirimu, terima kasih sudah mengirimkan kata-kata yang menyejukkan di pagi ini. Dan aku takkan menunggu ‘kelak’ itu datang. Saat ini juga akan aku katakan pada dunia,,,

bahwa

aku juga bahagia memiliki sahabat sepertimu..^^

 

 


Bangkitlah, Garudaku…!!

•Desember 29, 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

Besok malam Garuda-ku akan kembali mengepakkan sayapnya

 

Ayo, kembalilah terbang Garuda-ku

Tak usah gentar dan gamang dengan patahan sayapmu kemaren

Tergelincir karena sikutan itu biasa

Terjatuh karena patukan lawanmu itu tak seberapa

Kami disini menyemangatimu

Akan melihatmu membumbung tinggi ke angkasa

 

Kepakkan sayapmu terus

Hingga tak ada lawan yang berani menantang tinggi terbangmu

Teruslah lebarkan sayapmu

Hingga hanya kau yang menguasai angkasa

 

Teruslah terbang Garuda-ku

Kami disini menyemangatimu…

 

Terhatur buat Timnas Indonesia…

Selamat Berjuang, Pahlawan…

 

 

Berasaklah, dan pergilah melaut lagi,,!

•Desember 17, 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

Seekor pipit terbang merendah dan hinggap di tiang kapalnya. Sekejap ia memandang, pipit kembali terbang mengikuti kawan-kawannya. Tapi Re tak lepas memandangi laju terbangnya si pipit dan ekor matanya terus mengikuti kepak sayap mungil si pipit. Sudah semakin jauh si pipit terbang ke utara hingga tak terjangkau lagi oleh pandangan matanya, Re kembali menekur. Mencoba menghitung pasir di dalam genggamannya. Lelah menghitung, Re terdiam lurus memandangi samudra di hadapannya. Sore ini tak berangin hingga tak ada ombak besar yang pecah ke pantai.

Re mamandangi kapalnya. Badannya masih kokoh membusung. Kilapnya masih bercahaya terkena sinaran matahari sore. Tapi segagah apapun ia sekarang, tak ada gunanya jika ia tak bisa membawa ikan pulang dari melaut. Itu karena tiangnya yang patah terkena hempasan angin. Dan Re belum juga memperbaikinya hingga sekarang. Ia hanya sebuah bangkai yang teronggok di hamparan pasir memandangi kapal-kapal lain yang hilir mudik melaut. Iri sebenarnya mengusik, ia ingin melaut, menemani Re mencari ikan. Tapi entah apa salahnya, usaha Re mendandaninya dan membuatnya segagah bahtera, tak kuat menahan terpaan angin di tengah badai. Dan Re selalu pulang dengan tangan kosong.

Sejak itu, Re tak bergairah lagi dengannya. Tapi kadang Re datang menemaninya menyepi di tepi pantai. Kadang Re masih mengusap-ngusap lambungnya. Kadang Re duduk disebelahnya mengajaknya bertukar cerita tentang masa-masa indah melaut bersama. Masa-masa berpetualang menaklukkan samudra walaupun hanya ikan-ikan kecil yang mereka dapatkan. Dan sekarang Re larut dalam diamnya.

Di suatu kesempatan sore, ketika angin sepertinya bisa di ajak berkompromi dan sehari tadi langit cerah dan sepertinya akan banyak bintang malam ini, ia menyapa Re yang tengah duduk disampingnya menghitung pasir.

“Tak kah kau rindu melaut?”

“Itu impianku. Tak perlu kau pertanyakan”, jawab Re

“Tapi kenapa tak diperbaiki. Aku haus akan asinnya air laut”

“Aku ingin rehat sejenak”, ucap Re pelan

“Sudah terlalu lama aku menanti dan menjadi bangkai disini. Perbaikilah dan marilah kita mencari ikan”, bujuk si kapal

“Aku ingin rehat sejenak,” ulang Re

“Tak adakah kata lain selain mengatakan itu. Apa yang bisa kita perbuat disini? Aku bukan pajangan dan kau, apa yang kau dapatkan dengan hanya memandangi ombak di kejauhan? Ikan takkan datang jika kita tak melaut,”ungkap si kapal

Re memandang kapalnya sayu.

“Aku tahu kau bukan pajangan. Tapi bisakah kau bersabar sebentar sampai aku menemukan kayu terbaik dari hutan sebagai pengganti tiangmu yang patah? Lihatlah dirimu sekarang? Takkan bisa kau pergi melaut tanpa tiang layarmu,”

Re melanjutkan,” Aku membuatmu dengan sepenuh hati, dengan seluruh kemampuan jiwa dan ragaku. Tapi tak jauh kita berlayar, angin itu merubuhkan tiangmu. Dan kau tahu, tiangmu adalah harapanku untuk melaut. Tanpanya takkan bisa kita berlayar jauh…”

“Ya…aku tahu itu… makanya janganlah hanya duduk disini, segeralah ke hutan, buatlah tiang terbaik agar ia selalu kuat di terpa angin dan badai. Aku sudah tidak sabar menjelajahi lautan,” ujar si kapal bersemangat

“Mohon bersabarlah,.. suatu saat kita akan pergi melaut lagi…” jawab Re pelan

“Apakah itu sebuah harapan untukku”, tanya si kapal tak sabar

“Entahlah…”, jawab Re singkat

Re bangkit, dan berjalan meninggalkan kapalnya memasuki hutan.